Revolusi Literasi dan Kedaulatan AI: Redefinisi Peran Santri 2026
- Diposting Oleh Admin Magister PBA
- Jumat, 9 Oktober 2026
- Dilihat 65 Kali
Oleh: Moh Wakil
(Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Arab UIN Madura)
Peringatan Hari Santri 2026 tidak lagi sekadar menjadi ruang panggung nostalgia sejarah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Di tengah gelombang pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan fragmentasi informasi global saat ini, esensi "jihad" mengalami pergeseran paradigma yang mendasar. Perjuangan hari ini tidak lagi bertumpu pada perlawanan fisik, melainkan pada kedaulatan epistemologis: bagaimana nilai-nilai keilmuan dan etika pesantren mampu menuntun arah perkembangan teknologi tanpa kehilangan akar tradisi.
Secara historis, pesantren merupakan tempat belajar yang sangat kuat dalam membangun kemampuan membaca dan menulis. Tradisi membuka kitab turats dengan pendekatan bahasa yang tepat, seperti tata bahasa (nahwu), struktur kata (shorof), hingga seni berbicara (balaghah), secara tidak langsung membentuk cara berpikir analitis dan kritis pada seorang santri. Ketelitian dalam membaca teks klasik ini sebenarnya merupakan dasar yang sangat cocok dengan kebutuhan analisis di era digital saat ini, di mana pemrosesan data dan struktur logika menjadi bahasa yang digunakan secara universal.
Namun, realitas hari ini menuntut akselerasi yang lebih luas. Berdasarkan data Kompas Digital Index 2025, tingkat literasi digital di sektor pendidikan keagamaan terus mengalami peningkatkan pesat, di mana lebih dari 68% lembaga pesantren aktif memanfaatkan platform digital untuk tata kelola informasi dan media dakwah. Transformasi ini membuktikan bahwa pesantren tidak pernah anti-modernitas. Pemanfaatan tools modern, pengembangan media visual, hingga penguasaan tata kelola sistem berbasis web kini menjadi instrumen baru dalam menjaga keberlanjutan tradisi riset dan penyebaran pemikiran Islam yang inklusif.
Pendekatan humanis dalam tradisi pesantren, yang selalu mengutamakan adab dibandingkan ilmu, menjadi solusi penting dalam menghadapi perubahan teknologi saat ini. Ketika alur informasi yang cepat sering kali mengurangi makna dan empati sosial, santri hadir dengan memberikan perspektif yang dalam (tafaqquh fiddin) yang juga dilengkapi dengan keterampilan adaptif. Santri saat ini tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga bisa menciptakan cerita yang menggabungkan pemikiran agama dengan kemajuan ilmu pengetahuan.
Peringatan Hari Santri 2026 harus dimaknai sebagai momentum konsolidasi intelektual. Keberhasilan santri di era ini tidak diukur dari seberapa jauh ia mampu mengisolasi diri dari perubahan, melainkan seberapa bijak ia mampu menguasai instrumen zaman untuk mengabdi pada kemanusiaan. Dengan berbekal kedalaman literasi klasik dan kecakapan teknologi modern, santri senantiasa berdiri tegak sebagai pilar peradaban yang berdaya saing global dan berkarakter mulia.