Pesantren Melahirkan Santri, Zaman Menuntut Bukti
- Diposting Oleh Admin Magister PBA
- Rabu, 21 Oktober 2026
- Dilihat 43 Kali
Oleh: Baihaki
(Mahasiswa program studi magister Pendidikan Bahasa arab UIN Madura)
Setiap tanggal 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri Nasional. Di berbagai pesantren, peringatan ini disambut dengan beragam kegiatan, mulai dari upacara, pembacaan selawat, hingga pengajian. Semua itu merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan para ulama dan santri yang turut mengambil bagian dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Namun, di balik perayaan tersebut, ada pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: setelah sekian lama pesantren melahirkan generasi santri, apa yang sudah mereka berikan untuk menjawab persoalan zaman?
Pertanyaan ini bukan untuk meragukan peran pesantren, melainkan untuk mengingatkan bahwa kebanggaan terhadap sejarah harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab pada masa kini. Sebab, pesantren tidak hanya mewariskan tradisi keilmuan, tetapi juga menanamkan nilai pengabdian. Nilai-nilai itulah yang semestinya menjadi bekal santri ketika kembali ke tengah masyarakat.
Sejarah telah mencatat bahwa santri bukan kelompok yang berdiri jauh dari perjuangan bangsa. Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu penanda penting keterlibatan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Semangat tersebut menunjukkan bahwa belajar agama tidak membuat seseorang berpaling dari persoalan bangsanya. Sebaliknya, ilmu agama dapat menjadi landasan untuk membangun keberanian, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
Akan tetapi, perjuangan santri hari ini tidak lagi sama dengan perjuangan pada masa penjajahan. Tantangan yang dihadapi semakin beragam. Santri hidup di tengah perkembangan teknologi, perubahan sosial, persaingan global, dan derasnya arus informasi. Mereka tidak cukup hanya memahami persoalan yang terjadi di lingkungan pesantren, tetapi juga perlu memiliki kepekaan terhadap apa yang berlangsung di luar tembok pesantren.
Di sinilah pentingnya melihat kembali makna menjadi santri. Menjadi santri bukan sekadar pernah mengenakan sarung, membaca kitab kuning, atau tinggal di lingkungan pesantren. Lebih dari itu, menjadi santri berarti bersedia menjalani proses pembentukan diri melalui ilmu, kedisiplinan, kesederhanaan, dan akhlak. Identitas tersebut seharusnya tercermin dalam cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.
Sayangnya, kebanggaan terhadap identitas terkadang lebih mudah diucapkan daripada dibuktikan. Kita bisa saja bangga dengan sejarah pesantren, tetapi kebanggaan itu kehilangan makna apabila tidak disertai kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Kita juga bisa berbicara tentang akhlak, tetapi nilai-nilai itu akan dipertanyakan apabila tidak tercermin dalam perilaku sehari-hari. Karena itu, Hari Santri semestinya tidak berhenti sebagai perayaan, tetapi menjadi ruang untuk bercermin.
Santri dan Tantangan Zaman
Salah satu tantangan terbesar santri saat ini adalah bagaimana menjaga tradisi keilmuan pesantren tanpa menutup diri terhadap perkembangan zaman. Mempelajari kitab kuning tetap menjadi bagian penting dari pendidikan pesantren. Namun, penguasaan ilmu agama juga perlu diiringi kemampuan membaca persoalan kontemporer, mengembangkan penelitian, menguasai bahasa, serta memanfaatkan teknologi secara bijaksana.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), misalnya, santri perlu mengambil peran yang lebih luas. Teknologi dapat membantu proses belajar, penerjemahan, penelitian, dan pengembangan pendidikan. Namun, kemudahan tersebut tidak boleh membuat santri kehilangan daya kritis atau bergantung sepenuhnya pada jawaban mesin. Santri harus tetap memeriksa kebenaran informasi, memahami sumber pengetahuan, dan mempertanggungjawabkan setiap gagasan yang disampaikan.
Dalam kehidupan digital, nilai tabayyun juga semakin relevan. Kebiasaan memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya merupakan bagian dari tanggung jawab moral. Santri seharusnya mampu menjadi teladan dalam menggunakan media sosial, bukan justru ikut memperkeruh keadaan dengan menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, mencela orang lain, atau mempertajam perbedaan.
Tantangan tersebut menunjukkan bahwa santri tidak harus memilih antara tradisi dan kemajuan. Keduanya dapat berjalan beriringan selama nilai-nilai dasar pesantren tetap menjadi pegangan. Tradisi memberikan arah dan pijakan, sedangkan pengetahuan baru membuka kemungkinan untuk menjawab persoalan yang terus berkembang.
Ketika Ilmu Harus Menjadi Pengabdian
Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: ilmu yang dipelajari di pesantren pada akhirnya harus memberikan manfaat. Santri yang telah memperoleh pendidikan agama memiliki tanggung jawab untuk ikut membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik. Pengabdian itu tidak harus selalu diwujudkan melalui jabatan besar atau posisi yang terlihat oleh banyak orang.
Seorang santri yang menjadi guru dapat berkontribusi dengan mencerdaskan generasi. Santri yang menjadi peneliti dapat menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat. Santri yang berwirausaha dapat membuka lapangan pekerjaan. Bahkan, santri yang kembali ke desanya dan membantu menyelesaikan persoalan masyarakat telah mengambil bagian dalam perjuangan yang bermakna.
Karena itu, ukuran keberhasilan santri tidak semestinya hanya dilihat dari seberapa tinggi kedudukan yang diraih, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang diberikan. Ilmu yang luas perlu disertai kerendahan hati. Kecerdasan perlu berjalan bersama kejujuran. Dan keberhasilan pribadi perlu diimbangi kepedulian terhadap sesama.
Pesantren tentu memiliki tanggung jawab untuk terus memperkuat perannya dalam menyiapkan generasi tersebut. Budaya membaca, diskusi, penelitian, penguasaan teknologi, dan pengembangan keterampilan perlu mendapat ruang yang memadai. Bukan untuk mengubah pesantren menjadi lembaga yang kehilangan identitas, melainkan untuk memastikan bahwa nilai-nilai yang diwariskan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk mengenang kejayaan masa lalu, tetapi juga ruang untuk menyiapkan masa depan. Santri tidak cukup hanya menjadi penerima warisan keilmuan; mereka juga harus berani mengembangkan dan meneruskannya melalui karya nyata.
Zaman Tidak Cukup Dijawab dengan Kebanggaan
Hari Santri Nasional seharusnya mengingatkan kita bahwa sejarah bukan sekadar cerita yang diulang setiap tahun. Sejarah adalah amanah yang harus diteruskan. Perjuangan para ulama dan santri terdahulu tidak cukup dihormati melalui upacara dan slogan, tetapi perlu dilanjutkan dengan kesungguhan belajar, keberanian berpikir, keteguhan menjaga akhlak, serta kesediaan mengabdi kepada masyarakat.
Santri masa kini memang tidak lagi berhadapan dengan tantangan yang sama seperti para pendahulunya. Namun, semangat perjuangan tetap dibutuhkan. Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk mempertahankan kemerdekaan, sekarang perjuangan itu dapat diwujudkan melalui upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, melawan kebodohan, menjaga persatuan, dan menghadirkan keadilan sosial.
Pada akhirnya, pesantren telah menjalankan perannya dengan mewariskan ilmu, nilai, dan tradisi kepada para santri. Kini, tanggung jawab berikutnya berada di tangan mereka yang telah menerima warisan tersebut. Apakah ilmu itu akan berhenti sebagai hafalan? Apakah akhlak hanya akan menjadi nasihat? Ataukah semuanya akan tumbuh menjadi tindakan yang memberikan manfaat nyata?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya dibawa dalam peringatan Hari Santri Nasional. Sebab, zaman tidak hanya membutuhkan santri yang bangga dengan asal-usulnya, tetapi juga santri yang mampu membuktikan kualitas dirinya melalui pemikiran, perilaku, dan pengabdian.
Pesantren melahirkan santri, tetapi zaman menuntut bukti. Bukti bahwa ilmu mampu mencerahkan, akhlak mampu menjaga martabat, dan pengabdian mampu membawa perubahan. Sebab, kebesaran pesantren tidak hanya terlihat dari sejarah yang diwariskan, tetapi juga dari masa depan yang berhasil dibangun oleh para santrinya.